
Pertanyaan ini mengalir dari seorang rekan tepat setahun yang lalu. Di fledging Pecuk tepatnya. Pecuk sendiri adalah komunitas para pencinta burung yang luar biasa. Dan acara Fledging adalah salah satu acara kaderisasinya.
Setahun lalu saya juga menjadi bagian dari proses kaderisasi ini. Banyak cerita menarik. Bertualang dialam dan beberapa obrlan kita tentang konservasi yang dilematis.Dilematis, ya sebab terkadang usaha konservasi ini juga bertentangan dengan hajat hidup seseorang.
Berikut ini adalah sebuah obrolan yang akan membuat kita akan sulit memutuskan, apa tetap berjuang dijalan konservasi atau membiarkan tindakan perburuan burung yang jelas bertentangan dengan jiwa peduli lingkunan dan satwa burung liar
Di sebuah hutan kampus ITS yang rindang. Tampak seorang kru pecuk yang tengah melakukan pengamatan. tanpa sadar ia melihat sebuah kesewenangan pada burung liar yang dicintainya. seorang bapak yang setelah ini kita sebut sebagai pemburu burung sedang beraksi memasang perangkap.
Kru Pecuk :"Lho pak lagi ngapain pak?,"
Pemburu Burung :" Lagi Mulut( jebak manuk manuk) mas,?
Kru Pecuk : "lho pak kan kasian, dibuat nanti kalo jenis ini punah bagaimana?" ujar sang pahlawan lingkungan membela gelatik jawa yang terjebak.
Pemburu Burung : Sambil menghela nafas panjang. " Lha piye maneh mas, bapak niki mek nggadah usaha niki mawon (jual beli burung). lek mboten niki anak kulo badhe maem nopo."
Jawaban yang tragis dan dilematis bukan. bayangkan jika sang bapak berujar demikian, " Lha sekarang pilihannya burung punah atau anak punah mas?.